Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2011

4 Benteng Penjaga Anak dari Informasi Menyesatkan


Internet sangat kaya akan sumber informasi. Beragam informasi bisa kita peroleh dari internet. Namun sayangnya tidak semua informasi yang terpampang merupakan informasi yang baik, kadang kita jumpai informasi yang menyesatkan atau bahkan menanamkan kebencian.

Bagi orang dewasa mungkin informasi tersebut tidak terlalu merisaukan, karena biasanya mereka lebih bisa memilah benar tidaknya suatu berita. Tapi bagaimana dengan anak-anak dan remaja? Bisa dibilang mereka merupakan golongan usia yang rentan terhadap pengaruh dari luar.

Agar anak tidak mudah termakan dengan informasi yang menyesatkan dari internet, latihlah mereka untuk berfikir kritis terhadap suatu informasi. Berikut 4 benteng yang bisa membantu anak berfikir kritis dan mampu memilah baik buruknya sebuah informasi:

1. Latihlah dari usia sedini mungkin
Hal ini penting karena saat ini anak-anak TK pun sudah mulai dikenalkan dengan internet. Akan lebih baik jika sejak dini mereka mulai diajarkan untuk membedakan fakta dan opini serta mengenali informasi yang sifatnya bias, propaganda dan menjelek-jelekkan.

2. Tanyakan  informasi apa saja yang mereka peroleh di internet
Anda bisa menanyakan apa tujuan dari situs yang mereka buka, situs hiburan atau penjualan? Apakah situs tersebut mencantumkan informasi pemiliknya? Dengan begitu anak-anak anda tahu bahwa informasi yang mereka peroleh sumbernya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

3. Kenalilah situs yang dibuka
Apakah situs yang mereka buka merupakan situs perusahaan, individu atau milik kelompok masyarakat? Dengan begitu, mereka bisa memilah apakah situs yang dibuka merupakan situs terbaik untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.

4. Tekankan mereka untuk melakukan cross check dengan sumber lain
Agar informasi yang mereka peroleh tidak menyesatkan, biasakanlah  untuk melakukan perbandingan dengan sumber lain. Mereka bisa membandingkan dari situs lain atau bisa juga dari media lainnya seperti koran, majalah ataupun buku. Dampingilah saat melakukan cross check, dengan begitu mereka memperoleh sumber alternatif terhadap suatu informasi, sehingga lebih akurat.

Sumber : microsoft.com

Rabu, 08 Juni 2011

STRATEGI PEMBELAJARAN GURU KREATIF



Untuk dapat melaksanakan proses belajar mengajar semacam ini, ada beberapa strategi mengajar yang disarankan untuk dapat diimplementasikan oleh guru dalam proses pembelajaran, yaitu :

(1). Menggunakan alat peraga.
Penggunaan alat peraga yang berwujud benda nyata, membantu anak untuk memahami suatu konsep. Penggunaan alat peraga dengan berbagai cara, observasi terhadap alat peraga dan melihat reaksi yang terjadi pada alat peraga melatih anak untuk mengembangkan daya fikir, nalar sekaligus melatih keterampilan fisiknya.

(2). Modifikasi alat peraga.

Dengan alat peraga yang disediakan, guru dapat melakukan kegiatan bersama siswa terhadap alat peraga tersebut. Ada empat pendekatan yang dapat diterapkan dalam mempergunakan alat peraga. Tiap pendekatan dapat dipilih sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Pendekatan pertama dilakukan dengan berbuat terhadap suatu objek dan melihat bagaimana objek itu bereaksi. Pendekatan kedua, berbuat terhadap suatu objek untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Pendekatan ketiga, membangun kesadaran begaimana seseorang dapat menghasilkan efek yang diinginkan dan pendekatan ke empat melakukan penjelasan terhadap kegiatan yang baru dilakukan.

(3). Memperkenalkan kegiatan yang layak dan menarik.

Lakukanlah kegiatan yang menarik sesuai keinginan siswa. Jangan memaksakan suatu kegiatan dan berikanlah kebebasan kepada siswa untuk menolak atau menerima saran-saran yang diajukan. Proses belajar akan berjalan baik bila siswa terlibat secara langsung.

(4). Menciptakan pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah dan pemecahannya.

Metode pembelajaran saat ini sudah-mulai diarahkan pada kemampuan memecahkan permasalahan. Tetapi jarang diterapkan pentingnya perumusan masalah dan penciptaan pertanyaan permasalahan. Penciptaan pertanyaan dan perumusan masalah akan melatih siswa untuk mengenali permasalahan yang timbul di sekelilingnya dan berusaha untuk memecahkan masalah yang ada. Konstruksi pertanyaan dan permasalahan merupakan bagian paling penting dan kreatif yang diabaikan dalam pendidikan ilmu pengetahuan.


(5). Mengajak siswa untuk saling berinteraksi.

Menurut Piaget, pertukaran gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat di-ajarkan secara langsung, per-kembangkannya dapat distimulasi melalui interaksi dengan siswa pada tingkat yang sama. Para siswa hendaknya dianjurkan untuk memiliki pendapat sendiri, mengemukakannya, mempertahankannya dan merasa bertanggung jawab atasnya. Hal ini akhirnya memupuk ekuilibrasi, konstruktif dan membuat para siswa lebih cerdas dan termotivasi untuk terus belajar dibandingkan dengan belajar untuk jawaban benar saja.

(6). Menghindari istilah - istilah teknis dan menekankan untuk berfikir.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahasa dapat memperjelas dan memperkaya gagasan/ide para siswa pada tingkat perkembangan yang tinggi. Tetapi istilah-istilah teknis dalam pembelajaran seringkali merintangi alam fikir mereka karena mereka terpaku pada satu istilah saja tanpa memahami konsep dasar istilah tersebut.

(7). Menganjurkan siswa berpikir dengan cara mereka sendiri.

Ada kalanya siswa membandingkan hal yang salah namun mereka hendaknya tetap dianjurkan untuk berpikir dengan cara mereka sendiri. Sebagian intuisi mereka mungkin ada yang salah dan ada Juga yang benar. Yang perlu dilakukan ialah menelusuri ide yang mereka miliki dan mengkoordinasikannya agar para siswa terbiasa dengan proses berpikir itu sendiri.

(8). Perkenalan ulang (reintroduce).

Kegiatan yang dilakukan diatas diharapkan dapat merangsang daya tarik siswa terhadap suatu pelajaran. Dengan demikian konsep yang diajarkan haruslah mengaju pada materi yang dapat membantu siswa dalam memahami dunianya.

Dunia anak yang dimaksud ialah segala sesuatu yang dihadapi anak baik di rumah, di sekolah maupun di tempat bermain. Berkaitan dengan pengajaran di sekolah dasar, dunia anak merupakan segala sesuatu yang ada di masyarakat atau gejala-gejala sosial yang berada di sekitar lingkungan anak baginya merupakan pertanyaan yang ingin dipecahkan dan akan segera dijawab dengan pengajaran yang berkenaan.

Sehubungan dengan hal tersebut, pemilihan metode mengajar pun harus sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan membuat suasana belajar yang menyenangkan. Setiap kali mengajar, sesuai dengan pendekatan konstruktivisme, guru hendaknya menggunakan appersepsi untuk mengungkapkan pengetahuan awal siswa.

Hal ini akan mampermudah proses pembelajaran karena guru telah terlebih dulu mengetahui apa yang sudah ketahui oleh siswa sehingga dengan mudah guru dapat menyampaikan materi yang baru.

Melatih Kesabaran


Setiap orang pasti ingin memiliki kesabaran tingkat tinggi. tetapi bagaimana caranya agar kita bisa bersabar ketika sedang menunggu teman yang sudah membuat janji dengan kita tetapi teman yang kita tunggu tidak datang-datang?
Nah, untuk menumbuhkan kesabaran yang kita miliki ada beberapa kiat, antara lain :

pertama
berpikir positif terhadap hal-hal yang menimpa kita. anggaplah itu adalah ujian bagi kiat dan kita akan lulus ujian.

kedua
perbanyak membaca ilmu pengetahuian. Hal ini dilakukan aagr kita bisa memahami lebih banyak tentang kekurangan yang kita miliki, sehingga kita akan semakin merasa betapa banyaknya ilmu pengatahuan yang belum kita miliki.

ketiga
berkumpullah dengan orang-orang yang banyak ilmunya.

keempat
berlatih memasukkan benang ke lubang jarum, dan yang dipilih adalah jarum yang ukuran paling kecil.

kelima
maafkan selalu kekurangan oarang lain yang mungkin membuat Anda marah. yakinkan diri bahwa setiap manusia pasti memilki kekurangan masing-masing.

selamat mencoba

Selasa, 07 Juni 2011

Hypno Learning, "What is it?"


Hypnolearning adalah terapi hypnosis yang digunakan untuk mengatasi kurang optimalnya kemampuan belajar seseorang. Hypnolearning akan menggunakan dan memanfaatkan kondisi bawah sadar untuk menghancurkan mental block negative dan melakukan setting ulang mental block yang positif dan melakukan proses anchoring. Anchoring adalah sebuah proses memberi tombol kepada sebuah peak emotion tertentu dengan sesuatu. Model anchoring bisa dilihat pada berbagai macam phobia. Seseorang yang mengalami phobia akan menjadi sangat takut dengan sesuatu. Seseorang yang phobia terhadap api akan mengalami ketakutan yang sangat ketika melihat api. Pada contoh ini, api menjadi tombol dan ketakutan yang sangat akan menjadi peak emotionnya. Hal yang serupa akan diterapkan pula untuk kasus belajar dengan menciptakan sebuah “POWER WORD” dan menghubungkan power word dengan peak emotion relaks, senang, nyaman, comfort.

Mental block negative merupakan sebuah masalah yang fundamental bagi seorang pembelajar. Mental block sesungguhnya merupakan bagian proteksi dari pemikiran manusia yang melindungi manusia dari pemikiran yang tidak diinginkannya. Mental block ini dapat dianalogikan sebagai sebuah dinding rumah bagi pikiran manusia. Akan tetapi, dalam perkembangannya mental block ada yang mengarah ke negative. Untuk kasus belajar pun seperti itu. Dari kecil kita telah mengalami proses belajar. Awalnya proses belajar menjadi satu hal yang sangat menyenangkan. Tetapi seiring waktu mulai banyak hal negative yang masuk dalam proses belajar seperti ketika melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan dianggap salah, ditertawakan saat melakukan kesalahan, selalu mendengar sugesti bodoh saat melakukan kesalahan. Keseluruhan sugesti negative ini yang kemudian membentuk proteksi diri negative yang disebut mental block. Mental block ini bekerja di kondisi bawah sadar dan bekerja tanpa manusia sadari seperti saat kita menyetir kendaraan yang kita tidak sadari melakukan berbagai tahapan menyetir seperi menaikkan atau menurunkan gas, memindahkan persnelling sedangkan pikiran kita melayang jauh ke hal lainnya. Gejala mental block negative ini dapat dilihat saat akhir melakukan proses belajar-mengajar. Kita hanya perlu mengamati response siswa atau pembelajar saat mengakhiri pembelajaran, ketika mereka menjadi sangat bergembira saat itu, itulah moment yang menunjukkan mereka mengalami perasaan negative saat belajar

Selain masalah mental block, kebanyakan pembelajar memiliki motivasi belajar yang biasa-biasa saja umumnya disebabkan oleh setting goal yang tidak powerfull. Goal yang tidak powerfull tidak akan memberi efek yang sangat powerfull untuk memotivasi belajar. Untuk setting goal ini, Kami menggunakan konsep Pain-Pleasure. Pain-Pleasure adalah sebuah konsep dalam hypnosis yang dikembangkan dari dulu berdasarkan 2 kebutuhan primitive manusia, yaitu keinginan menghindari penderitaan dan keinginan mencari kebahagiaan. Selain menggunakan konsep Pain-Pleasure, Kami juga memadukan dengan Law of Attraction yang lagi hangat dibicarakan saat ini melalui “The Power of Visualisation” nya. Dengan menggunakan tools di atas, Goal Setting yang dibuat akan 100 kali bahkan 1000 kali lebih kuat dalam memotivasi orang.

Dengan menggunakan beberapa tools tersebut utamanya Hypnolearning yang akan membuat pembelajar memasuki kondisi bawah sadar (subconscious mind),ditambah dengan tools anchoring (tombol semangat), Law of Attraction, The Power of Visualization, Law of Repetition, The Law of Association, dan berbagai macam tools untuk memberi dan membentuk kondisi nyaman dan relaks serta termotivasi pada anak dalam kondisi bawah sadarnya (Subconscious Mind)

Senin, 06 Juni 2011

Lima Kelemahan Guru dalam Mengajar


Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum, tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama pengalaman belajar dan mengajar. Sengaja diberi judul demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya.  
Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain :
  1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir. Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
  2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa. Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
  3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku "menyimpang" seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
  4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat. Pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
  5. Tidak melaksanakan evaluasi. Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa.

Minggu, 05 Juni 2011

Belajar Cepat dan Efektif dengan Metode Hypno-Learning


Hari ini, persaingan teknologi semakin ketat, seperti yang dialami dua kerajaan IT, Apple dan Microsoft. Setahun belum tersaingi produk lain bahkan oleh Microsoft, Apple kembali  meluncurkan iPad yang lebih tipis dan canggih yakni iPad 2. Dari sinilah kita melihat bahwa Apple hari ini bukanlah Apple lima atau sepuluh tahun yang lalu. Apple sekarang telah mampu menyaingi produk-produk Microsoft. Steve Jobs telah begitu melesat mengejar ketinggalan atas rival terbesarnya itu, Bill Gates.
Lantas apa yang membuat perkembangan Apple ini seperti grafik eksponensial? Hal ini tak luput dari peran Steve Jobs yang juga begitu cepat dalam mengenali dan mempelajari teknologi yang dibutuhkan orang masa kini.
Ya, itulah hikmah yang perlu kita petik dari orang nomor satu di perusahaan Apple itu. Kecepatan adalah bagian terpenting dalam persaingan hidup ini, terutama dalam belajar.
"Bukan seberapa besar atau seberapa kecil kita, bukan seberapa pintar atau bodohnya kita, namun seberapa cepat kita belajar!”
Namun masalahnya adalah, bagaimana cara mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif? Itulah yang menjadi inspirasi topik dalam pembahasan ini, yakni belajar cepat dengan metode Hypno-Learning.
Hypno-Learning merupakan metode pembelajaran menggunakan kemampuan bawah sadar kita. Dalam penelitian disimpulkan bahwa alam bawah sadar menyumbang 88 persen kecerdasan kita, lantas yang kebanyakan kita gunakan selama ini adalah 12 persennya saja. Dengan memanfaatkan potensi alam bawah sadar ini, akan menjadikan kita yang lemah menjadi kuat, yang lemas menjadi lebih bertenaga, yang kurang pintar menjadi lebih kreatif sebab belajar yang paling cepat dan efektif tak lain menggunakan kemampuan 88 persen itu. Semakin cepat kita belajar, semakin cepat mengejar prestasi gemilang dimana saja.
Untuk membuka dan melatih alam bawah sadar kita, ada tips menarik dan pasti bisa dilakukan untuk membuka alam bawah sadar kita. 
Tips pertama
Menjadi lebih aktif dalam belajar. Semakin kita aktif dalam kegiatan belajar, maka kegiatan tersebut akan menuntun untuk dekat dengan alam bawah sadar kita. Tanpa kita sadari, alam bawah sadar kita akan menjadi asyik dalam menyimak pembelajaran yang kita lakukan. Karena semakin asyik, maka alam bawah sadar kita akan senantiasa mengingat pembelajaran yang kita peroleh. Itulah yang sering kita dengar dulu, bahwa belajar sambil mempraktekkan, akan lebih menancap pada otak kita dan tidak akan mudah luntur. 
Tips kedua
Kita dianjurkan menggunakan imajinasi kita dalam belajar. Seperti misalnya dalam menghafal deretan angka, kita bisa mengubah angka-angka itu menjadi huruf lalu menggabungkannya menjadi kata-kata yang dapat kita susun menjadi kalimat yang mudah kita ingat. Biarkanlah setiap yang kita pelajari menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan oleh imajinasi kita. 
Tips ketiga
Lakukan perulangan. Dengan mengulang-ulang suatu pekerjaan, tanpa disadari, kita akan mengingat dan fasih dengan apa yang kita kerjakan. Fenomena ini dapat kita pelajari dari seorang penjual pisang molen yang sedang mengupas, membungkus pisang, lalu menggoreng pisang itu dengan sangat terampil karena saking seringnya pekerjaan itu dilakukan. 
Tips yang terakhir
Fokus pada tujuan. Pikiran kita yang selalu fokus, akan memacu alam bawah sadar kita untuk selalu  mengacu pada tujuan yang kita capai. Dengan begitu, alam bawah sadar kita akan senantiasa menuntun otak dan perilaku kita ini untuk selalu melakukan sesuatu yang terkait tujuan akhir yang kita inginkan. Sebagai contoh, saat akhir pekan kita fokus untuk hobby kita, misalnya bermain komputer, maka bisa jadi setelah bangun pagi, hal yang kita lakukan pertama kali adalah menombol power-on komputer, lalu kita bermain tanpa kenal waktu. Seharusnya kegiatan belajar kita sehari-hari juga sefokus saat kita bermain.

Kamis, 02 Juni 2011

BELAJAR DENGAN MENDONGENG


Berbicara tentang dongeng. Apakah Anda pernah didongengi sebelumnya ??  Masih ingatkah Anda saat-saat Anda di dongengi ??  Siapakah yang mendongengi Anda saat itu ??  Masih ingatkah Anda isi dongeng tersebut ?? Saya yakin meski Anda sudah puluhan tahun yang lalu, sampai saat ini Anda masih ingat dengan jelas tentang materi dongeng yang disajikan saat itu. Betul demikian ? Dongeng memang sesuatu yang sudah sangat familiar di setiap budaya. Hingga saat inipun dongeng masih sering digunakan untuk berkomunikasi dengan Anak. Baik disekolah maupun di rumah. Apakah Anda juga mendongeng untuk putra-putri Anda ?? Dongeng adalah cara berkomunikasi yang mudah dan murah. Meski dongeng sudah sejak lama dan turun temurun, namun belum semua orang yang mendongeng menerapkan prinsip-prinsip sistem pikiran. Sehingga pesan dari dongeng belum tertancap secara maksimal pada pikiran anak. Hypnotic Story Telling adalah sebuah metode mendongeng yang memperhatikan cara kerja pikiran. Sehingga materi
dalam dongeng bisa tertanam secara maksimal pada pikiran anak, dan bisa memunculkan perubahan perilaku. Hypnotic Story Telling menggabungkan antara teknik-teknik mendongeng dengan metode hipnosis modern. Sehingga bisa dengan mudah dipelajari dan diaplikasikan.
Dongeng jika disajikan dengan benar maka akan memberikan manfaat yang luar biasa untuk putra-putri Anda. Manfaat-manfaat tersebut adalah :
1.
       Meningkatkan kemampuan berbahasa.
2.
      Meningkatkan kemampuan konsentrasi.
3.
      Meningkatkan kemampuan konseptual.
4.
      Meningkatkan kreativitas problem solving.
5.
      Meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara verbal dan non-verbal.
6.
      Meningkatkan kecerdasan intelektual dan emosional (IQ & EQ).
7.
      Memperluas wawasan.
8.
      Mengembangkan kepribadian.
9.
      Meningkatkan kemampuan imajinasi.
10.
   Menstimulasi relaksasi fisik dan psikologis.
11.    Lebih meningkatkan kedekatan emosional antara anak dan orang tua.

SALAM SUKSES

Selasa, 31 Mei 2011

Peranan Guru dan Orang Tua dalam Pemberdayaan Anak Luar Biasa



PENDIDIKAN nasional, pada dasarnya diperuntukkan bagi segenap rakyat negeri ini tanpa terkecuali. Itulah maka, kehadiran sekolah-sekolah khusus (bagi yang cacat maupun yang berbakat), serta sekolah kejuruan, disamping sekolah umum yang cukup banyak jumlahnya, tetap akan masih sangat dibutuhkan. Terutama lembaga-lembaga pendidikan formal bagi anak yang tuna --tuna netra, tuna rungu wicara, tuna grahita, tuna daksa, dan tuna laras-- juga tentu membutuhkan perhatian besar kita, bagi mekarnya potensi yang tersimpan dalam dirinya. Mereka tetap merupakan alternatif sumber daya manusia, yang dalam serba keterbatasannya diharapkan mampu menyumbang darma-bakti bagi kejayaan negeri. (Mulyadi,2001)
Penyandang cacat menurut Undang-undangn No 4 tahun 1997 didefinisikan sebagai “setiap orang yang mempunyai kelainan fisisk dan/mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya” Yang termasuk penyandang cacat dalam hal ini adalah penyandang cacat fisik, penyandnag cacat mental, serat penyandang cacat fisik dan mental.
TANGGAL 3 Desember ditetapkan PBB sebagai Hari Internasional penyandang Cacat, yang diawali dengan peristiwa Majelis Umum PBB menerima Resolusi No. 37/52 tentang Program Aksi Dunia bagi peningkatan Kualitas Hidup Penyandang Cacat tanggal 3 Desember 1982.
Resolusi tersebut menekankan pentingnya persamaan hak dan kesempatan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup mereka, termasuk di bidang pendidikan.
Sebagaimana warga masyarakat umumnya, para penyandang cacat juga memerlukan pendidikan. Pendidikan dibutuhkan oleh setiap orang untuk memperbaiki status dan kualitas kehidupan mereka. Pengalaman menunjukkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang warga masyarakatnya terdidik. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi penyandang cacat sangat terbatas dibandingkan orang yang tidak cacat. Menurut UNESCO, dari 93 juta anak penyandang cacat berusia di bawah 15 tahun (usia wajib belajar) di kawasan Asia dan Pasifik, hanya 5 persen yang bersekolah.
Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Ketentuan itu kemudian diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa.
Peserta didik yang mendapat Pendidikan Luar Biasa menurut PP itu adalah yang mengalami kelainan fisik (tunanetra, tunarungu, tunadaksa), kelainan mental (tunagrahita ringan dan sedang), kelainan perilaku (tunalaras) dan kelainan ganda.
Untuk melaksanakan sistem Pendidikan Luar Biasa, dibentuk SLB-A, untuk tunanetra, SLB-B, untuk tunarungu, SLB-C, untuk cacat mental, SLB-D, untuk tunadaksa, SLB-E, untuk tunalaras dan SLB-G, untuk tunamenda.
SEKOLAH khusus bagi penyandang cacat dibuat atas pertimbangan bahwa penyandang cacat memerlukan fasilitas khusus dan guru yang terlatih, karena cacat yang mereka alami merupakan hambatan untuk mendapatkan pendidikan secara normal. Bahwasanya penyandang cacat mengalami hambatan untuk mengikuti sistem pendidikan 'normal' dan memerlukan fasilitas khusus serta guru yang terlatih dengan metode pengajaran tertentu, adalah tidak mungkin diingkari. Tetapi kekhususan tersebut tidak harus dengan cara mengelompokkan mereka dalam institusi khusus yang memisahkannya dengan murid yang tidak cacat.
Kritikan terhadap keberadaan sekolah khusus penyandang cacat sudah banyak dilontarkan, terutama dari kalangan penyandang cacat itu sendiri. Penempatan ke dalam apa yang disebut "Sekolah Khusus Penyandang Cacat", menjadikan penyandang cacat dipandang sebagai sesuatu yang 'lain' oleh masyarakat: Padahal sesungguhnya mereka adalah juga warga negara biasa sebagaimana masyarakat lainnya. Keberatan itu cukup beralasan, sebab sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi dalam kehidupan seseorang. Di sekolah, murid tidak hanya mendapatkan transformasi ilmu pengetahuan dan
keterampilan saja, tetapi juga nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Melalui Interaksi Sosial di sekolah, seorang anak dapat memahami adanya perbedaan di antara mereka, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang pintar, ada yang malas. Mereka juga melihat adanya kesamaan di dalam suasana yang berbeda-beda itu, yaitu mereka sama-sama murid yang sedang menimba ilmu pengetahuan.
Di dalam perbedaan dan persamaan itu, mereka juga memahami adanya persahabatan dan persaingan, suatu gambaran dari masyarakat yang sesungguhnya. Pemahaman ini akan terekam dalam perilaku mereka dan ini sangat penting jika tiba saatnya mereka terjun ke masyarakat kelak.
Umumnya seseorang yang mengalami kelainan fisik atau mental cenderung untuk kurang percaya diri (minder). Pengelompokan mereka secara khusus dianggap lebih memberikan rasa aman. Untuk sesaat, rasa aman yang diberikan mungkin terpenuhi, namun terbatas di lingkungan tersebut. Pada sisi lain, masyarakat menuntut penyandang cacat untuk hidup secara 'normal'. Sekolah khusus penyandang cacat seperti yang kita kenal selama ini harus diakui tidak membantu proses integrasi sosioal penyandang cacat, karena anak penyandang
cacat tidak disiapkan untuk menghadapi masyarakat yang sesungguhnya. Kecuali itu, anak yang tidak cacat (yang suatu saat terjun ke masyarakat), tidak akan memahami kebutuhan khusus dan problema penyandang cacat secara benar, disebabkan mereka tidak terbiasa untuk bermain, belajar dan hidup dengan penyandang cacat.
Dipersoalkan pula bahwa sekolah khusus penyandang cacat tidak jarang menimbulkan kesulitan bagi mereka dalam upaya peningkatan status dan penghidupan. Kebanyakan sekolah khusus penyandang cacat menyelenggarakan pendidikan baru sampai tingkat dasar, hanya beberapa pada tingkat menengah. Permasalahan timbul jika lulusan sekolah khusus penyandang cacat bermaksud meneruskan pendidikan tinggi, karena tidak ada sekolah tinggi penyandang cacat.
Sekolah tinggi yang ada umumnya tidak memperhitungkan keberadaan para lulusan sekolah tersebut. Paling tidak hal ini terlihat dari persyaratan pendaftaran yang menyebutkan antara lain "Berijazah sekolah umum". Dianggap suatu hal yang 'aneh' jika mereka mendaftar ke sekolah tinggi. Barulah, dengan kebijaksanaan yang sifatnya intern seorang penyandang cacat dapat masuk ke sekolah tinggi.
Fakta menunjukkan, penyandang cacat yang hadir di sekolah umum mampu mencapai prestasi yang tidak berbeda dengan siswa lain. Tidak jarang prestasi mereka melebihi siswa yang tidak cacat. Kisah sukses penyandang cacat yang mendapat pengakuan di masyarakat, selalu diwarnai dengan latar belakang pendidikan bukan khusus penyandang cacat.
Pendidikan terpadu adalah sistem pendidikan yang lebih memberi keuntungan bagi peningkatan kualitas hidup penyandang cacat, dalam arti bukan hanya mengalihkan penempatan siswa cacat ke sekolah umum, melainkan juga menciptakan suasana iklim pengajaran yang memungkinkan penyandang cacat dapat mengembangkan potensi mereka secara optimal. Misalnya, menciptakan kurikulum pendidikan guru yang fleksibel, yaitu membeli calon guru sekolah umum dengan kemampuan mengajar murid yang berkelainan. Di samping itu, menciptakan lingkungan sekolah yang memudahkan ruang gerak bagi penyandang cacat.
Dalam masyarakat kehadiran penderita cacat harus dianggap sebagai anggota mayarakat lainnya yang tidak cacat. Elander (dalam Jansen, 1998) mengutarakan 10 peraturan dasar untuk hidup berintegrasi dalam masyarakat, yaitu (1) kehidupan keluarga, penyandang cacat harus mempunyai kebebasan untuk mencari pasangan, mempunyai anak, dan membentuk keluarga sendiri, (2) tempat berlindung, (3) makanan, (4) sekolah, (5) pendidikan dan pelatihan, (6) waktu senggang, (7) pelayanan masyarakat, (8) perhimpunan, (9) peluang-peluang ekonomi, dan (10) partisipasi politik. Dari sepuluh peraturan tersebut dapat diklasifikasikan lima hal yang memegang peranan penting dalam memberdayakan anak penyandang cacat, yaitu (1) integrasi dalam tempat tinggal, (2) berintegrasi dalam sekolah, (3) berintegrasi dalam pekerjaan, (4) berintegrasi dalam kontak sosial, dan (5) berintegrasi dalam hak asasi (jansen. 1998:4).
Banyak orang yang tidak mempunyai pengalaman tentang anak-anak luar biasa akan mempunyai pandangan yang stereotipe bahwa anak luar biasa adalah anak yang harus diperlukan berbeda dengan anak-anak yang tidak mengalami permasalahan. Kondisi seperti menurut Hidayat (1998:2) dapat memberikan gambaran yang suram dan dapat menghambat pemenuhan kebutuhan anak luar biasa ini.

Peranan Orang tua dan Guru
Dalam memandang pendidikan bagi anak penderita cacat, Warlock (dalam Hidayat, 1998:3) membuat beberapa rekomendasi tentang pendidikan anak luar biasa, yaitu bahwa mereka dididik bukan hanya berdasarkan pada kelainan khusus mereka. Melainkan juga karena adanya kebutuhan terhadap pendidikan khusus. Di samping itu mengintegrasikan anak-anak dengan kebutuhan khusus ke dalam sekolah umum dimanapun adalah memungkinkan dan dapat dilakukan. disini keterlibatan orang tua sangat diperlukan. Orang tua mempunyai suatu hak untuk meminta dan melibatkan diri dalam assasenment anak-anaknya dan memutuskan tentang penempatan sekolahnya.
Orang tua memegang peranan yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anaknya yang mempunyai kelainan tersebut. Kekhususan yang dimiliklnya tentunya memerlukan perhatian yang khusus bagi orang tua sehingga ada kesatuan cara pandang antara orang tua di rumah maupun dengan guru di sekolah.
Peran-peran yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru diantaranya adalah.

Bagi anak tuna netra
Ada perasaan kaget campur sedih takkala melihat anak yang baru dilahirkan dalam keadaan tidak bisa melihat. Setiap orang tua mengharapkan bayinya yang mampu melihat dunia dan segala isinya seperti yang orang tua lihat. Orang tua pasti menginginkan bayinya yang tuna netra itu mampu melihat alam sekitar dengan tersenyum dengan muka yang berseri-seri, menoleh ke arah suara, dan gerakan-gerakan anak normal lainnya.
Bayi tuna netra perlu memahami lingkunganya secara realistik. Untuk itu orang tua mempunyai peranan yang sangat strategis untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menginterpretasikan apa yang dilakukanya dan menyesuaikan perilakunya dengan tepat. Dalam hal ini orang tua misalnya dapat mendorong anaknya untuk dapat mengambil cangkir dan meletakkanya kembali pada tempat yang semula setelah minumnya selesai, daripada memberikanya takkala si anak meminta dan mengembalikanya ketika si anak sudah selesai. Meskipun pada awalnya orang tua cukup membimbing tanganya memegang permukaan meja dan membantu meraba cangkirnya untuk lebih mengenalinya. Semua ini diikuti dengan percakapan yang sesuai dengan kejadian yang sedang dialaminiya.
Orang tua sebaiknya sedini mungkin memindahkan perhatian anak tuna netra pada tangan dan kakinya, misalnya meletakkan bel kecil pada pergelangan kaki dan tanganya, atau dengan memotivasi anak untuk menggunakan kedua tanganya memegang sebuah botol atau cangkir. Selain itu menggunakan media mainan yang dapat berbunyi ketika disentuh dan tidak mudah menggelinding juga dapat dimanfaatkan.
Untuk peningkatan perkembangan bahasa anak tuna netra dapat dilakukan dengan cara mengenalkan nama-nama benda yang di dengar, dicium, dan diraba. Bahasa itu dapat digunakan anak tuna netra untuk dapat meningkatkan penjelajahan terhadap lingkunganya. Bagi anak tuna netra adalah penting untuk bisa menyerap informasi secara maksimum melalui penginderaanya dan mampu mencapai kemandirian serta kepuasan seperti anak-anak lainnya.

Bagi anak tuna rungu
Pada umumnya anak tuna rungu mengalami masalah dengan kemampuan menyampaikan bahasa lisan sehingga anak tuna rungu perlu didorong untuk mengembangkan bahasa isyarat. Walaupun pemberian penekanan pada penguasaan bahasa isyarat ini menimbulkan pro konta di kalangan para pakar. yang setuju untuk dilakukan penekanan bahasa isyarat beranjak pada pemikiran bahwa sebagai bagian dari masyarakat dan keluarga yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan anggota keluarga dan masyarakat maka takkala kemampuan bahasa lisan tidak memadai maka diperlukan kemampuan berbahasa isyarat sehingga dapat terjalin komunikasi antara si anak dengan orang lain. Untuk itu mereka harus diberi suatu sistem yang mendorong mereka mampu berkomunikasi secara efektif dan dapat menangkap informasi dari orang lain.
Sedangkan yang tidak setuju penekanan pada pemberian bahasa isyarat mengutarakan bahwa pemberian penekanan pada penguasaan bahasa isyarat akan mengganggu atau mengurangi penguasaan bahasa lisan yang sedang dipelajari (Hidayat, 1998:5). Penekanan pada bahasa isyarat juga akan membatasi lingkungan pergaulan anak tuna rungu. Hal ini karena komunikasi hanya dapat berlangsung dengan orang-orang yang tahu dan paham bahasa isyarat yang digunakan.
Bahasa lisan anak tuna rungu dapat dikembangkan sesuai dengan kondisinya apabila mereka diberi kesempatan yang maksimal untuk mengembangkan ketrampilan yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi sebanyak-banyaknya.
Untuk mengembangkan kemampuan anak tuna rungu sesuai dengan potensinya, orang tua dan guru harus memberikan kesempatan sejak usia dini pada anak untuk mendapatkan latihan pendengaran bagi mereka yang masih mempunyai sisa pendengaran dan belajar bahasa isyarat. Proses tersebut harus difokuskan pada pemahaman anak tuna rungu secara individual sehingga orang tua dan guru perlu menyadari perbedaan perjalanan perkembangan anak tuna rungu.

Bagi anak tuna daksa
Pada umumnya anak tuna daksa tidak hanya mengalami kelainan fisik namun juga mengalami ketidakmampuan lainnya yang sifatnya lebih individual. Menurut Hidayat (1988:8) walaupun dalam kondisi tuna daksa yang berat tapi anak-anak tunadaksa dapat mengembangkan kemampuan kognisinya, serta mampu memahami benda-benda dan orang yang ada di sekitarnya, namun untuk dapat berkembang seperti itu anak tunadaksa harus selalu diberi kesempatan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya.
Permsalahan yang banyak dialami selama ini adalah adanya ketidaksadaran orang tua bahwa anaknya dapat berkembang. Selama ini yang menjadi kendala berkembangnya anak tuna daksa adalah keengganan orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Kebanyakan orang tua sangat khawatir kalau anaknya berinteraksi dengan orang lain, disamping perasaan malu juga ketakutan bahwa anaknya nanti malah maik parah.
Untuk itu maka orang tua harus disadarkan bahwa dengan semakin mengekang anaknya maka perkembangan anaknya akan semakin menurun. Disamping itu harus disadari oleh orang tua bahwa interaksi dengan manusia lain dan lingkungan sekitar itu adalah obat yang paling mujarab bagi anaknya.

Bagi anak Down’s Sindrome
Pada anak Down’s Sindrome, indikasi terjadinya gejala Down’s Sindrome sudah dapat diketahui pada satu tahun pertama, hal ini berbeda dengan anak tuna netra dan bayi normal yang kadangkala baru diketahui beberapa waktu kemudian. Pada anak penderita Down’s Sindrome sering memperlihatkan pola perkembangan fisik yang sama dengan anak normal namun dalam hal kecepatan dan kegesitan tampak ketinggalan jauh.
Karena memiliki perbedaan perkembangan terutama intelektual maka anak seperti ini harus diberikan layanan khusus semenjak dini. Temuan Cunningham dan Sloper (1986) yang menyebutkan bahwa bayi Down’s Sindrome yang memperoleh layanan pendidikan dini sebelum usia 6 bulan memiliki perkembangan yang lebih baik setahun dibandingkan anak Down’s Sindrome yang mendapatkan layanan pendidikan dini setelah usia 6 bulan.
Dengan demikian maka jelaskan bahwa intervensi semenjak dini sangat diperlukan.
Layanan pendidikan yang dapat dilakukan oleh orang tua, guru dan ahli psikoplogi lain adalah memberikan terapi yang integral baik dalam kemampuan bicara, motorik, dan sebagainya.
Orang tua berperan sangat besar dalam hal ini. Orang tua harus memberikan beragam latihan yang diulang-ulang. Hal ini karena anak Down’s Sindrome tidak mendasarkan diri pada pengtahuan yang diketahui sebelumnya. Dalam mengajarkan ketrampilan-ketrampilan orang tua atau guru perlu sekali mengaitkan dengan tingkat usia perkembangan kemampuan yang dimilikinya. Disamping itu anak Down’s Sindrome harus dibiasakan dalam kehiodupan anak-anak normal. Sehingga proses interaksi akan menggugah alam sadar anak sehingga akan mampu lebih berkembang.
Mempunyai anak dengan katagori luar biasa memang adalah fitrah yang memang harus diterima oleh orang tua. Kebingungan,penyesalan, malu seringkali selalu menghinggapi orang tua yang anak-anaknya mengalami kelainan. Namun lambat laun seiring waktu banyak orang tua yang menyadari bahwa pola perilaku seperti itu malah akan merugikan orang tua terlebih sangat merugikan anak-anaknya kelak.
Berangkat dari realitas tersebut maka orang tua sangat perlu sekali mendapatkan bantuan dan informasi yang jelas dan menenangkan tentang kondisi yang dihadapi oleh anaknya. Sikap positif orang tua dipandang menjadi faktor penentu keberhasilan pemberdayaan anak luar biasa ini.
Untuk itu orang tua harus dibekali informasi yang lengkap tentang bagaimana mereka dapat membaca tanda-tanda aktivitas motorik anak sejak usia dini, menghilangkan pendangan yang tidak realistik, dan menghambat perkembangan anak. Dan disisi lain orang tua harus mampu menciptakan lingkungan yang dapat mengakomodasi kebutuhan anak sesuai dengan potensinya. Untuk membina dan melakukan konseling bagi orang tua maka perlu dilakukan kerja sama lintas sektoral antara orang tua, guru,dalam an ahli yang kompeten.

Sabtu, 22 November 2008

RAHASIA DAPAT MENGUASAI MATEMATIKA


1. Niat tulus
Niatkan bahwa belajar merupakan ibadah kepada Tuhan. Tujuan anda belajar matematika adalah mengabdi kepadaNya
2. Berdoa
Awali setiap belajar anda dengan menyebut dan mengingat Tuhan dan berdoa.
Yakinkan diri anda bahwa hanya dengan ijinTuhan, anda bisa jika berusaha.
3. Tidak sombong
Bersihkan hati anda dari penyakit "sombong"
Seringkali kita tidak sadar bahwa rasa sombong menyelinap di hati kita manakala harus belajar matematika. Mengira tanpa mendengar gurupun bisa, tanpa melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru pun bisa. Merasa diri sudah cerdas, sehingga tidak serius dalam belajar.
4. Percaya diri
Jangan vonis bahwa "matematika itu sulit, tidak bisa dipelajari". Karena itu sama saja dengan memvonis diri sendiri, "aku bodoh, aku gak bakalan bisa matematika".
Begitu anda mengatakan itu di hati anda, maka pintu hati anda tertutup untuk matematika. Akibatnya pikiran andapun tertutup, sehingga ilmu tidak dapat masuk kedalam pikiran anda.Sepintar apapun guru yang mengajar anda, tidak akan ada penambahan ilmu di otak anda.
5. Belajar dengan bertahap
Pelajari secara bertahap, dari dasar, pelajari konsep-konsepnya (pengertian-pengertiannya), kemudian sifat-sifatnya, rumus-rumus, baru mengerjakan soal dari yang mudah.
Jika ternyata anda sadar bahwa kesulitan anda karena tidak menguasai materi sebelumnya yang menjada dasar materi yang anda pelajari saat ini, maka tekadkan diri anda menyediakan waktu untuk mempelajari dasar-dasar itu, dari awal, dan kerjakan juga soal-soanya.
6. Perbanyak latihan mengerjakan soal-soal.
Sekalipun anda hafal semua rumus-rumus, itu tidak akan berarti, jika anda tidak pernah atau jarang latihan. Jika anda mengalami kesulitan pada awal anda akan mengerjakan soal latihan, maka kerjakan saja contoh-contoh soal dari buku.
7. Kuasai konsep
Jika kita sudah menguasai konsep, MATEMATIKA? ENJOY AJA
8. Rajin berdiskusi
Yang ini fungsinya biar kita gak ku-in (kurang informasi) so kita bisa tuker pendapat